INDOZONE.ID - Dulu orang-orang Inggris memperkenalkan sebuah permainan yang unik ke India. Olahraga bernama kriket itu dimainkan selama berhari-hari di bawah sinar matahari yang terik dengan menggunakan kayu sebagai tongkat dan bola yang keras.
Orang Inggris pada awalnya memperkenalkan kriket dengan tujuan untuk "mengadabkan" masyarakat lokal.
Mereka meyakini bahwa jika warga India dapat bermain kriket dengan baik, mereka akan menjadi sepatuh orang Inggris.
Ratusan tahun kemudian, Inggris merasakan penyesalan atas pilihan tersebut.
India tidak hanya mengambil kriket, tetapi juga memodifikasinya, memberikan napas baru kepadanya, dan saat ini memanfaatkan potensi ekonomi kriket untuk "menguasai kembali" Inggris.
Baca juga: Evolusi Akademi Red Bull: Membedah 3 Generasi Pembalap Didikan Helmut Marko ala Saga Ultraman
Bagaimana perubahan besar ini dapat terjadi? Mari kita telusuri apa yang terjadi.
Jebakan Awal: Mainan Para Pangeran yang Ingin Terlihat "Barat"
Kriket tidak langsung menjadi olahraga rakyat jelata di India.
Dalam bukunya, A Corner of a Foreign Field, sejarawan Ramachandra Guha mencatat bahwa kriket muncul sebagai sarana diplomasi dan simbol status.
Di abad ke-19, para pangeran dan maharaja di India tidak bermain kriket untuk hiburan, melainkan untuk menarik perhatian pemerintah kolonial Inggris.
Bagi kalangan elit di India pada masa itu, memakai seragam kriket yang sepenuhnya berwarna putih (flanel) menyampaikan sebuah pesan visual yang berbunyi, "Perhatikan, kami beradab, kami setara."
Baca juga: Kamboja Tarik Kontingennya dari SEA Games Imbas Situasi Memanas dengan Thailand
Guha menjelaskan bahwa kriket memberikan akses khusus ke dalam komunitas kulit putih yang diskriminatif. Kriket menjadi lambang ketaatan dan peniruan.
"Pencurian" Budaya: Saat Kriket Menemukan Rumah Aslinya
Akan tetapi, pandangan masyarakat India kini telah bergeser. Olahraga kriket tidak lagi dianggap sebagai sebuah hak yang hanya dimiliki oleh kalangan elite.
Sosiolog Ashish Nandy mengemukakan sebuah argumen yang mengundang pemikiran dan menghibur dalam bukunya yang berjudul The Tao of Cricket:
“Kriket merupakan sebuah permainan yang secara tak sengaja ditemukan oleh orang Inggris dan berasal dari masyarakat India.”
Apa artinya? Nandy menguraikan bahwa permainan kriket yang berlangsung selama lima hari - sering berhenti karena waktu istirahat minum teh, dan kerap dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keberuntungan (cuaca, keadaan lapangan) - justru sangat berlawanan dengan budaya Inggris yang cepat dan berorientasi industri.
Baca juga: Resmi Jadi Juara Dunia 2025: Lando Norris Bongkar Penyesalan Terbesarnya, Apa Itu?
Di sisi lain, ritme dari permainan ini sejalan dengan filosofi kehidupan India, yang mengutamakan kesabaran, bersifat fatalis, serta menghargai perjalanan panjang yang tergambar dalam puisi epik, Mahabharata.
Dalam karya buku "Modernity at Large," Arjun Appadurai merujuk proses ini sebagai "dekolonisasi imajinasi."
Masyarakat India tidak hanya menerima kriket, mereka juga mengubahnya secara mendasar.
Mereka mengambil struktur olahraga tersebut, namun meninggalkan aturan Inggris yang ketat ("permainan pria terhormat" yang tenang), dan menggantinya dengan keceriaan, emosi, serta suasana meriah yang khas dalam festival-festival di India.
Tanpa disadari, orang Inggris telah memberikan permainan yang "salah" kepada orang yang "tepat. "
Lapangan Hijau sebagai Medan Perang
Pada permulaan abad ke-20, kriket mengalami perubahan dari sarana hiburan menjadi medium perlawanan.
Dalam karya berjudul "India and the Olympics", Boria Majumdar dan Nalin Mehta menjelaskan bahwa selama era kolonial, tindakan seorang pria India berkulit gelap memukul seorang pria Inggris berkulit putih sangat dilarang.
Jika ini dilakukan di jalan, individu tersebut bisa menghadapi penjara. Satu-satunya arena di mana “kekerasan” dipandang sah adalah di lapangan kriket.
Saat tim India mengalahkan tim Inggris mirip dengan kemenangan epik Mohun Bagan dalam sepakbola atau keberhasilan tim kriket di Bombay Gymkhana.
Itu bukan sekadar sebuah prestasi di dunia olahraga, melainkan juga merupakan manifestasi kebanggaan rasial.
Kriket bertransformasi menjadi "agama" yang menyatukan, melampaui berbagai batasan agama dan kasta yang ada di India yang rumit, sekaligus mendorong perasaan nasionalisme yang dapat mengancam kelangsungan kekuasaan Inggris.
Karma Ekonomi: Inggris Kini Menjadi "Bawahan"
Bagian terpenting dari "balas dendam" yang bersejarah ini muncul di era modern, khususnya di abad ke-21.
Stadion Lord's yang terletak di London dulunya menjadi patokan global.
Baca juga: Lepas Kewarganegaraan Brasil, Ciro Alves Mulai Proses Naturalisasi untuk Jadi WNI
Seluruh regulasi ditetapkan di Inggris, sementara India hanya mengikuti. Namun saat ini? Kondisinya telah berubah drastis.
Dalam bukunya "The Magic of Indian Cricket", Mihir Bose menjelaskan bagaimana semangat berkobar dari satu miliar rakyat India telah menjadi industri yang sangat besar.
Pasar di India kini merupakan yang terbesar di seluruh dunia.
Amit Gupta “India and the IPL: Cricket's Globalized Empire” serta Nalin Mehta “The Changing Face of Cricket: From Imperial to Global Game” mempertegas.
Mereka mengungkapkan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa peluncuran IPL (Indian Premier League) telah merevolusi struktur kekuatan di panggung global.
Di masa lalu, para pemain India hanya bisa berharap bermain di liga Inggris (County Cricket) dengan bayaran yang rendah, tetapi kini para pemain terbaik dari Inggris bersedia untuk membatalkan rencana liburan mereka atau bahkan meninggalkan tim nasional demi berpartisipasi di India.
Baca juga: Wayne Rooney: Mohamed Salah Sudah Merusak Warisannya di Liverpool
Enam minggu di IPL mampu memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan gaji satu tahun di Inggris.
BCCI, atau Dewan Pengawas Kriket India, saat ini mengukuhkan posisinya sebagai organisasi olahraga paling kaya dan berpengaruh dalam dunia kriket.
Ketika India mengeluarkan suara "tidak", dunia kriket tidak akan mengalami perubahan atau tidak bergerak.
Inggris, yang merupakan tempat asal olahraga ini, harus melakukan lobi dan mengikuti jadwal yang ditentukan oleh mantan koloni mereka, India.
Narasi tentang kriket di India merupakan pelajaran yang ideal mengenai karma kolonial. Saat Inggris datang ke India dengan bola dan tongkat, tujuan mereka adalah untuk menguasai.
Namun, dengan cerdik, orang India "mengambil" olahraga itu, mula-mula mereka menyesuaikannya dengan nilai-nilai mereka sendiri, kemudian memanfaatkannya untuk meredakan kebanggaan kolonial, dan pada akhirnya, membeli olahraga tersebut dengan uang.
Tidak hanya India yang menguasai dunia kriket, tetapi negara ini juga telah meredefinisi olahraga tersebut.
Meskipun aturan awalnya ditetapkan oleh Inggris, India saat ini adalah pihak yang mengendalikannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber