INDOZONE.ID - Praktik mafia bola menjadi salah satu masalah serius yang mencoreng dunia sepak bola. Istilah ini merujuk pada jaringan yang melakukan pengaturan skor (match-fixing) untuk memanipulasi hasil pertandingan demi keuntungan tertentu.
Kasus mafia bola telah terjadi di berbagai negara dan kompetisi, dengan modus seperti menyuap wasit, memengaruhi pemain kunci, hingga mengendalikan pasar taruhan.
Kehadiran mafia bola ini tidak hanya merusak integritas pertandingan, tetapi juga mengancam kepercayaan publik terhadap dunia sepak bola.
Lantas, bagaimana seorang mafia bola bekerja?
Baca juga: MotoGP Resmi Tunda Balapan GP Qatar Akibat Situasi Geopolitik
Apa Itu Mafia Bola?
Secara sederhana, mafia bola merujuk pada jaringan kriminal yang terlibat dalam pengaturan skor (match‑fixing) dan praktik curang lain untuk mendapatkan keuntungan ekonomi atau kemenangan tertentu dalam pertandingan.
Biasanya, aktivitas ini berkaitan erat dengan judi ilegal, suap, dan kolusi dengan pejabat pertandingan atau pemain untuk memanipulasi hasil laga sesuai dengan kepentingan mereka.
Cara Kerja Mafia Bola dalam Mengatur Skor
Dalam banyak kasus, pihak mafia akan mendekati wasit, pemain, atau pejabat pertandingan untuk memastikan hasil pertandingan sesuai dengan skenario yang telah disepakati sebelumnya.
Praktik ini biasanya dimulai dari mafia atau bandar judi yang memiliki jaringan luas. Mereka akan mencari titik lemah, seperti wasit yang rentan atau pemain yang kesulitan secara finansial, lalu memberikan tawaran suap agar keputusan di lapangan bisa memihak mereka.
Jika kontak ini berhasil, pertandingan yang seharusnya kompetitif tiba‑tiba menjadi ajang skenario yang sudah diatur sebelumnya.
Baca juga: Atlet Sepak Bola Putri Iran yang Dapat Suaka dari Australia Bertambah 2 Orang
Modus Pengaturan Skor dalam Sepak Bola
Pengaturan skor melibatkan sejumlah modus yang bisa mengecoh publik. Salah satunya adalah manipulasi langsung terhadap hasil pertandingan, di mana mafia memastikan tim atau pemain tertentu menang, kalah, atau draw sesuai skenario taruhan.
Modus ini memanfaatkan suap, ancaman, atau bahkan tekanan psikologis pada pihak yang terlibat.
Selain itu, ada modus yang lebih halus seperti memengaruhi keputusan wasit untuk memberikan penalti, kartu merah/kuning, atau keputusan lain yang bisa memengaruhi hasil akhir pertandingan secara signifikan.
Semua ini dirancang agar bandar judi mendapatkan peluang taruhan yang sangat menguntungkan.
Kasus match‑fixing ini tidak hanya terjadi di liga besar. Faktanya, sejumlah investigasi global seperti Operation VETO mengungkap bahwa ratusan pertandingan di berbagai negara terindikasi dimanipulasi oleh sindikat tersangka kriminal.
Skandal Mafia Bola Terkenal di Dunia (Skandal Calciopoli di Italia)
Kalau bicara soal mafia bola yang paling terkenal, hampir semua pengamat sepak bola sepakat menyebut Calciopoli sebagai salah satu skandal terbesar dalam sejarah olahraga.
Kasus ini terjadi pada musim 2004–2006 di Italia, ketika penyelidikan mengungkap adanya hubungan antara eksekutif klub dan pejabat wasit untuk memengaruhi penunjukan wasit dalam Serie A dan Serie B.
Imbas dari Calciopoli sangat besar. Juventus, salah satu klub paling berpengaruh di Italia, dihukum dengan didegradasi ke Serie B dan pencabutan gelar juara liga, sementara beberapa klub lain juga mendapat hukuman poin dan sanksi berat lainnya.
Meski kemudian beberapa pejabat dibebaskan lewat banding, kasus ini tetap tercatat sebagai aib besar dunia sepak bola yang mengguncang reputasi kompetisi di Negeri Pizza tersebut.
Baca juga: Berapa Jumlah Wasit dalam Pertandingan Sepak Bola? Ini Penjelasannya Menurut FIFA dan IFAB
Upaya FIFA dan Satgas Anti Mafia Bola dalam Pemberantasan
Untuk menghadapi ancaman mafia bola, organisasi sepak bola global seperti FIFA telah mengambil serangkaian langkah pencegahan dan penindakan.
FIFA tidak hanya melarang match‑fixing secara tegas dalam kode etiknya, tetapi juga menyediakan mekanisme pelaporan rahasia serta bekerja sama dengan lembaga internasional seperti United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) untuk memerangi praktik ini secara global.
Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui aparat penegak hukum dan Polri sudah membentuk Satgas Anti Mafia Bola yang khusus menangani kasus match‑fixing.
Satuan tugas ini aktif melakukan investigasi pada pertandingan yang dicurigai di liga domestik, termasuk Liga 2, untuk mengungkap dan menjerat pelaku pengaturan skor dengan hukuman pidana sesuai aturan yang berlaku.
Upaya pemberantasan ini juga melibatkan kerja sama antara federasi sepak bola, pihak berwajib, serta penyedia data dan teknologi untuk mendeteksi pola taruhan mencurigakan yang bisa menjadi tanda awal pengaturan skor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: FIFPRO