Luis Enrique saat di PSG. (IMAGN IMAGES via Reuters/Brett Davis)
INDOZONE.ID - Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, menegaskan timnya tidak menurunkan intensitas permainan saat melumat Real Madrid dengan skor 4-0 di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025.
Kemenangan yang diraih di Metlife Stadium, pada Rabu (9/7/2025) itu, membawa PSG melaju ke final dan berpeluang untuk menyapu bersih semua trofi di musim ini.
Gol Goncalo Ramos dirayakan oleh para pemain PSG. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
PSG menunjukkan dominasinya sejak awal laga yang digelar di Amerika Serikat tersebut. Tim asal Prancis itu langsung tancap gas dan unggul dua gol dalam 10 menit pertama.
Mereka kemudian menambah satu gol lagi sebelum laga berjalan setengah jam. Praktis, pertandingan hampir sepenuhnya dikendalikan PSG sejak awal.
Baca juga: PSG Lumat Real Madrid 4-0 dan Siap Hadapi Chelsea di Final Piala Dunia Antarklub
Gonçalo Ramos menutup pesta gol lewat gol di menit-menit akhir. Real Madrid kesulitan menciptakan peluang sepanjang laga dan tampak tak mampu mengimbangi intensitas permainan PSG.
Pada babak kedua, Enrique mulai merotasi pemain. Beberapa pemain inti, seperti Khvicha Kvaratskhelia, Fabian Ruiz, Nuno Mendes, Ousmane Dembele, dan Desire Doue ditarik keluar.
Tempo pertandingan pun menurun, memicu anggapan bahwa PSG sengaja menahan diri agar tidak mempermalukan Real Madrid lebih jauh.
Menanggapi kritik bahwa PSG sengaja menurunkan tekanan di babak kedua, Luis Enrique membantah keras.
"Kami tidak mengendurkan tekanan," tegas Enrique.
"Tapi tentu saja, dengan cuaca panas, jadwal final yang hanya tinggal tiga hari lagi, dan risiko cedera seperti kram, kami harus pintar-pintar menjaga kondisi," tambahnya.
Baca juga: 5 Fakta PSG Libas Real Madrid 4-0 di Semifinal Piala Dunia Antarklub 2025
Enrique mengingatkan, bahwa performa timnya di awal musim sempat diragukan. PSG dianggap tidak punya pemimpin dan kesulitan mencetak gol.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian