INDOZONE.ID - Olahraga Bulu Tangkis merupakan olahraga yang paling populer di dunia. Saking populernya, olahraga ini, banyak sekali beberapa kejuaraan dunia bulu tangkis.
Salah satu turnamen bulu tangkis tertua di dunia adalah Thomas Cup. Turnamen ini, merupakan turnamen bulu tangkis untuk regu putra yang cukup bergengsi di dunia.
Turnamen Thomas Cup ini biasanya diselenggarakan selama dua tahun sekali. Turnamen ini dinilai sebagai turnamen terbesar dan paling prestisius di dunia.
Apalagi, banyak pebulutangkis papan atas yang turun tampil pada turnamen tersebut.
Pada artikel ini, Indozone akan membahas terkait sejarah singkat Thomas Cup, sebagaimana dilansir dari laman resmi BWF, pada Selasa, (26/5/2026). Yuk Simak!
Baca juga: Rifat Sungkar Bentuk Tim Reli Wanita Pertama di Indonesia, Ini Alasannya
Tim Bulu Tangkis Indonesia saat angkat trofi Thomas Cup ((REUTERS/Ritzau Scanpix))
Thomas Cup pertama kali dicetuskan oleh Sir George Alan Thomas pada 1939 lalu. Ia merupakan mantan presiden International Badminton Federation (IBF), yang kini berubah nama jadi Badminton World Federation (BWF).
Awalnya, turnamen ini diadakan setiap 3 tahun sekali. Namun sejak tahun 1982 hingga saat ini, turnamen beregu putra ini diadakan setiap 2 tahun sekali.
Thomas Cup pertama kali dipertandingkan pada tahun 1949 di Preston, Inggris. Saat itu, hanya ada 3 negara yang berpartisipasi pada kejuaraan tersebut, yaitu Malaya (sekarang Malaysia), Denmark, dan Amerika Serikat.
Pada turnamen tersebut, Malaya berhasil menjadi juara Thomas Cup yang pertama, setelah mengalahkan Denmark 8-1 di final.
Dalam format terbaru, pertandingan antara dua tim peserta Thomas Cup terdiri dari 5 pertandingan (3 ganda, 2 tunggal).
Pada Thomas Cup edisi 2026, China keluar sebagai juara setelah mengalahkan Prancis pada partai final yang digelar di Horsens, Denmark pada 3 Mei 2026 lalu.
Baca juga: Akhir Era Emas! Pep Guardiola Resmi Ucapkan Salam Perpisahan Emosional kepada Manchester City
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BWF