INDOZONE.ID - Gemerlap lampu neon dan kemewahan Sirkuit Jalan Raya Las Vegas ternyata tidak membawa keberuntungan bagi sang juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton.
Akhir pekan Grand Prix Las Vegas yang digelar pada Minggu (23/11/2025) justru menjadi salah satu momen paling kelam dalam karir panjang pembalap yang kini berseragam Scuderia Ferrari tersebut.
Namun, di tengah badai kritik dan rasa frustrasi yang melanda Hamilton, mantan rekan setimnya sekaligus juara dunia F1 2009, Jenson Button, pasang badan.
Button meyakini bahwa meski Hamilton terlihat sangat terpukul, kemampuan mental sang legenda untuk bangkit tidak boleh diremehkan.
Akhir Pekan yang "Random" di Las Vegas
Bagi Lewis Hamilton, Grand Prix Las Vegas adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Segala sesuatunya dimulai dari sesi kualifikasi yang kacau balau.
Baca juga: 3 Arahan Presiden Prabowo Subianto untuk Tingkatkan Kesejahteraan Atlet Indonesia
Di tengah kondisi cuaca yang buruk dan lintasan yang licin, terjadi kebingungan komunikasi mengenai apakah Hamilton berhasil melewati garis start/finish tepat waktu untuk melakukan putaran terakhir atau push lap di kualifikasi 1 (Q1).
Akibatnya? Hamilton mencatatkan waktu paling lambat. Statistik mencatat ini sebagai momen bersejarah yang menyedihkan, untuk pertama kalinya dalam 19 tahun kariernya di Formula 1, Hamilton berada di posisi terakhir kualifikasi murni karena kurangnya kecepatan, bukan karena penalti mesin atau kecelakaan.
Kesengsaraan berlanjut ke balapan utama. Awalnya, Hamilton tampak menjanjikan saat membelah barisan selama paruh pertama balapan 50 lap tersebut.
Namun, performa mobil Ferrari SF-25 miliknya mendadak lenyap begitu ia masuk pit untuk mengganti ban hard ke medium.
Alih-alih menyerang ke depan, Hamilton justru terjebak di belakang Nico Hulkenberg. Pembalap berusia 40 tahun itu harus puas finis di posisi ke-10 di lintasan, membuntuti pembalap Jerman tersebut hingga garis finis.
Posisi akhirnya kemudian naik ke urutan ke-8 hanya karena diskualifikasi pasca-balapan yang menimpa kedua pembalap McLaren.
Curhatan Pilu Sang Juara Dunia
Rasa frustrasi Hamilton terlihat jelas usai balapan. Kepada media, pemenang 105 Grand Prix ini tidak menutupi perasaannya.
Ia mengaku merasa sangat buruk dan menyebut musim 2025 ini sebagai "musim terburuk yang pernah ada" dalam karirnya di F1.
Pernyataan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat reputasi Hamilton sebagai pembalap yang tangguh secara mental.
Namun, Jenson Button, yang pernah berbagi garasi dengan Hamilton di McLaren, memberikan perspektif yang berbeda.
Berbicara kepada Sky Sports F1, Button mengakui bahwa hasil buruk di balapan adalah konsekuensi langsung dari kualifikasi yang berantakan.
Namun, ia dengan cepat membela mantan rekan setimnya itu.
"Ya, memang begitu," ujar Button menanggapi korelasi antara kualifikasi buruk dan hasil balapan.
"Tapi saya merasa Lewis telah membawa dirinya dengan sangat baik tahun ini."
Button menyoroti betapa sulitnya menjaga sikap positif di tengah musim yang penuh cobaan bagi seseorang dengan kaliber juara seperti Hamilton.
"Ini adalah musim yang sangat sulit. Bagi seseorang sekelas dia untuk mengalami balapan-balapan yang sulit seperti ini, dia tetap membawa dirinya dengan sangat baik," puji Button.
Namun, Button juga menangkap sinyal yang mengkhawatirkan dari bahasa tubuh dan komentar Hamilton di Las Vegas.
Ia menilai komentar Hamilton kali ini jauh lebih berat dibandingkan saat ia menyarankan Ferrari butuh pembalap baru pasca GP Hungaria lalu.
Baca juga: Harry Kane soal Pindah ke Bayern Munchen: Keputusan Terbaik di Hidup Saya
"Ini adalah pertama kalinya saya merasa kita benar-benar melihatnya sangat putus asa," tambah Button.
"Dan itu sangat berpengaruh. Secara mental, sangat menguras tenaga ketika Anda mengalami beberapa balapan buruk."
Analisis Button ini memang masuk akal. Rentetan hasil buruk tanpa adanya tanda-tanda perbaikan yang signifikan dari mobil SF-25 milik Ferrari tentu menggerogoti kepercayaan diri pembalap mana pun, bahkan yang terbaik sekalipun.
Keyakinan akan Kebangkitan Hamilton
Meskipun mengakui bahwa Hamilton sedang berada di titik terendah, Button menolak anggapan bahwa ini adalah akhir dari era Hamilton.
Ia berargumen bahwa sebelum Las Vegas, sebenarnya sudah ada tanda-tanda perbaikan dari sisi garasi Hamilton.
Button percaya bahwa sifat alami Hamilton sebagai petarung akan membuatnya segera melupakan akhir pekan yang buruk ini.
Baca juga: Timnas Indonesia Akan Berlaga di Piala Asia 2027, Kevin Diks Ingin Hadapi Korea Selatan
"Dan rasanya seperti sedang menanjak (sebelum Las Vegas) dan mungkin akan kembali baik untuk balapan berikutnya, dan saya harap begitu," kata Button optimis.
"Dia sangat bagus dalam hal itu. Jika dia mengalami balapan yang buruk, dia sangat pandai membalikkan keadaan di balapan berikutnya."
Menurut Button, kemampuan bangkit dari keterpurukan adalah salah satu kekuatan terbesar Hamilton sepanjang kareirnya.
Ia tidak akan membiarkan satu akhir pekan yang buruk menghantuinya terlalu lama.
"Jadi ini tidak akan membebaninya setelah akhir pekan ini, tapi ini memang momen yang sulit baginya dan karirnya saat ini," tutup Button.
Dukungan dari figur senior seperti Jenson Button tentu menjadi angin segar bagi Lewis Hamilton yang usianya tidak muda lagi.
Di tengah badai kritik dan keraguan mengenai performanya bersama Ferrari, pengakuan bahwa hal tersebut sangat penting untuk menjaga moral.
Para penggemar F1, khususnya Tifosi, kini menanti pembuktian ucapan Button.
Apakah Lewis Hamilton mampu melupakan mimpi buruk di Las Vegas dan kembali tampil garang di seri berikutnya? Ataukah "musim terburuk" ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Sky Sports F1