INDOZONE.ID - Fabio Cannavaro baru-baru ini membagikan pengalamannya sejak ia ditunjuk sebagai pelatih Timnas Uzbekistan pada Oktober 2025 lalu.
Diketahui, Cannavaro awalnya diragukan banyak pihak saat ditunjuk sebagai pelatih Timnas Uzbekistan. Hal itu, tidak lepas dari CV kepelatihannya tidak sementereng dengan karier saat masih aktif sebagai pemain.
Selama karier kepelatihannya, pencapaian terbaik Fabio Cannavaro mungkin adalah membawa klub raksasa China, Guangzhou Evergrande menjuarai Chinese Super League (CSL) pada tahun 2019 lalu.
Selain itu, karier kepelatihan Cannavaro di liga top Eropa juga tidak terlalu bagus. Klub terakhir yang ia latih adalah, Dinamo Zagreb selama satu musim.
Sempat menganggur selama beberapa bulan, Cannavaro akhirnya menerima tawaran untuk melatih Timnas Uzbekistan pada Oktober 2025, lalu menggantikan Timur Kapadze.
Baca juga: Hidup Mati Lawan Myanmar, Timnas Indonesia U-22 Gak Boleh Ulangi 2 Kesalahan Ini
Sejak menangani Timnas Uzbekistan, Cannavaro sudah memimpin 4 laga FIFA Matchday. Ia pun berhasil membawa tim Serigala Putih ini meraih 3 kemenangan melawan Iran, Kuwait dan Mesir.
Sementara itu, satu-satunya kekalahan adalah saat menghadapi Uruguay pada Oktober lalu, yakni Uzbekistan kalah 2-1.
Meskipun awalnya diragukan oleh banyak pihak, Fabio Cannavaro justru menunjukkan totalitasnya dalam melatih Timnas Uzbekistan.
Bahkan, ia menetap di Tashkent demi menyaksikan langsung Liga Uzbekistan, untuk memantau pemain-pemain muda lokal, serta mempelajari kultur sepak bola Uzbekistan.
"Mereka sangat menghargai kenyataan bahwa dalam sebulan kami menonton satu atau dua pertandingan sehari. Kami tinggal di sana selama 40 hari, bepergian ke berbagai tempat karena kami ingin segera terlibat dalam proyek ini," ujar Fabio Cannavaro dalam wawancaranya bersama The Guardian yang dikutip pada Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Meski Menang 1-2, Pep Guardiola Akui Real Madrid Selalu Sulitkan Manchester City
Lebih lanjut, Cannavaro juga mengakui, intensitas Liga Uzbekistan sangatlah berbeda dengan Piala Dunia. Oleh karena itu, menurutnya liga lokal mereka perlu banyak perbaikan.
Selain itu, mantan pemain Juventus ini juga akan mengadakan kamp tambahan untuk pemain lokal, dan memantau mereka secara langsung tidak cuma di pertandingan melainkan dalam sesi latihan.
"Masih banyak yang harus dilakukan, yakni intensitas liga Uzbekistan sangat berbeda dari apa yang akan kami hadapi di Piala Dunia. Kami harus mengurangi kesenjangan itu," ujar pelatih berusia 52 tahun itu.
"Kami akan mengadakan kamp tambahan untuk pemain lokal dan memantau mereka tidak hanya dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan," sambungnya.
Mantan pemain Parma itu juga mengungkapkan, saat ini memilih menetap di ibukota Uzbekistan, Tashkent. Ia bilang, orang-orang disana cukup ramah.
Baca juga: Bikin Harum Nama Indonesia, Bojan Hodak Bangga Bisa Bawa Persib Lolos ke Babak 16 Besar ACL Two
Selain itu, Cannavaro juga telah menetapkan tujuannya di Timnas Uzbekistan yaitu membawa Abdukodir Khusanov, dan kolega melangkah jauh di Piala Dunia.
Ia mengaku, tidak mengabaikan upaya pendahulu dari Timur Kapadze, yang meloloskan tim serigala putih ini lolos ke Piala Dunia 2026.
Oleh karena itu, Cannavaro ingin meningkatkan sepak bola Uzbekistan yang sudah ada pengaruh sedikit dari sepak bola Eropa.
"Piala Dunia akan menjadi turnamen di mana kita harus belajar. Kemudian, enam bulan kemudian, kita memiliki Piala Asia, dan di sana kita akan memahami di mana kita bisa berada," ucap Cannavaro.
"Saya tidak ingin mengabaikan pekerjaan yang telah dilakukan sejauh ini: mereka membawa tim ke Piala Dunia. Saya ingin meningkatkan apa yang telah mereka lakukan dengan budaya sepak bola yang sedikit lebih Eropa," lanjutnya.
Fabio Cannavaro juga mengaku, Uzbekistan memiliki banyak pemain muda berkualitas. Akan tetapi, para pemain lokal perlu meningkatkan kemampuannya secara fisik. Meski begitu, Cannavaro juga memuji keuletan pemain Uzbekistan yang pantang menyerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian