Sejarah Tercipta di Negeri Alpen: Lausanne-Sport Bungkam Fiorentina, Kembali Lolos Fase Gugur Sejak 1982!
INDOZONE.ID - Stadion Stade de la Tuilière pada malam dini hari tadi menjadi saksi bisu malam magis yang tidak akan pernah dilupakan oleh publik sepak bola Swiss.
Setelah penantian panjang selama lebih dari empat dekade, Lausanne-Sport akhirnya memastikan diri kembali merasakan atmosfer kompetisi Eropa di fase gugur.
Kemenangan tipis 1-0 atas raksasa Italia yang sedang terluka, Fiorentina, bukan hanya mengamankan tiga poin krusial, tetapi juga menjadi momen bersejarah.
Hal ini menjadi kali pertama Lausanne berhasil menumbangkan tim asal Italia dalam sejarah klub, sekaligus memastikan tiket ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak tahun 1982 silam.
Gol tunggal Gabriel Sigua menjadi pembeda dalam laga pamungkas fase liga UEFA Conference League (UECL) tersebut.
Baca juga: AC Milan Tumbang dari Napoli, Penampilan Impresif Hojlund Hentikan Langkah Rossoneri
Kemenangan ini menempatkan Lausanne di posisi kesembilan klasemen akhir fase liga, sebuah pencapaian yang melampaui ekspektasi banyak pihak.
Sebaliknya, bagi Fiorentina, hasil ini semakin memperdalam krisis kepercayaan diri mereka di bawah asuhan Paolo Vanoli.
Drama Kabut dan Babak Pertama yang Berjalan Buntu
Pertandingan dimulai dengan atmosfer yang cukup menantang. Kabut tebal turun menyelimuti stadion, seolah menambah ketegangan bagi tuan rumah yang memiliki catatan unik musim ini.
Sebelum laga menghadapi Fiorentina, kelima gol Lausanne-Sport di fase liga selalu tercipta di babak pertama.
Namun, di tengah pandangan yang terbatas akibat cuaca, babak pertama justru berjalan antiklimaks dan minim peluang emas.
Baca juga: Vietnam Sabet Medali Emas usai Comeback Lawan Thailand 3-2 di Final Sepak Bola Putra SEA Games 2025
Meskipun permainan cenderung alot, Lausanne sebenarnya memiliki beberapa peluang untuk memecah kebuntuan lebih awal.
Theo Bair dan Sekou Fofana menjadi aktor utama di lini depan yang mencoba mengancam gawang lawan.
Sebuah momen brilian sempat tercipta lewat umpan backheel Bair yang membebaskan Fofana untuk berlari ke arah gawang.
Sayangnya, penyelesaian akhir dari sudut sempit tersebut masih melambung jauh dan melebar.
Sepuluh menit kemudian, Bair kembali membuang peluang emas ketika tendangannya dari jarak delapan yard terlalu lemah, menyia-nyiakan umpan silang matang dari sisi kanan.
Baca juga: Carlos Baleba Tuding MU Sebagai Biang Kerok Penurunan Performanya Bersama Brighton Musim ini
Babak pertama pun berakhir tanpa gol, meninggalkan rasa was-was di tribun penonton.
Sengatan Menyakitkan Gabriel Sigua dan Sihir Pemain Pinjaman MU
Memasuki babak kedua, tuan rumah tampil jauh lebih bertenaga.
Energi baru yang ditampilkan Lausanne akhirnya membuahkan hasil manis tepat sebelum laga berjalan satu jam.
Gol kemenangan yang dinanti-nanti bermula dari aksi individu memukau Enzo Kana-Biyik.
Pemain pinjaman dari Manchester United ini menunjukkan kelasnya dengan meliuk-liuk melewati pertahanan lawan hingga mencapai garis akhir lapangan.
Baca juga: Kalahkan Wakil Singapura, Tim Panahan Compound Putri Indonesia Cetak Sejarah di SEA Games 2025
Kana-Biyik kemudian melepaskan umpan silang indah ke tiang jauh yang disambut dengan sempurna oleh Gabriel Sigua.
Tandukan Sigua tak mampu dihalau oleh kiper Fiorentina, Tommaso Martinelli, dan seketika membuat stadion bergemuruh.
Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi mental skuad La Viola yang memang sudah rapuh sejak awal laga.
Fiorentina Terpuruk, Nasib Paolo Vanoli di Ujung Tanduk
Kebobolan satu gol membuat Fiorentina semakin kehilangan arah.
Mereka bahkan hampir kebobolan lagi ketika Beyatt Lekweiry dibiarkan berlari tanpa kawalan menuju kotak penalti.
Beruntung bagi tim tamu, Martinelli melakukan penyelamatan gemilang untuk mencegah skor berubah menjadi 2-0.
Menjelang akhir laga, Fiorentina mencoba bangkit demi menyelamatkan harga diri.
Namun, upaya serangan mereka yang terlambat berhasil dipatahkan oleh kiper Lausanne, Karlo Letica, yang tampil sigap melakukan beberapa penyelamatan krusial.
Peluit panjang akhirnya berbunyi, memastikan kekalahan Fiorentina yang membuat mereka terlempar ke posisi 16 klasemen akhir fase liga.
Hasil minor ini tentu menjadi sinyal bahaya bagi Paolo Vanoli, yang kini posisinya sebagai pelatih kepala berada di ujung tanduk, sementara Lausanne merayakan malam terindah mereka dalam 43 tahun terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Flashscore.com