INDOZONE.ID - Catur merupakan olahraga unik karena amat menitikberatkan permainannya pada strategi dan taktik ketimbang fisik. Tahukah kamu, bahwa catur sudah ada sejak ribuan tahun lalu?
Di Indonesia, kamu bisa menjumpai papan catur dengan mudahnya. Setiap sisi jalan saat bapak-bapak berkumpul, catur jadi salah satu permainan yang dipilih untuk menghabiskan waktu di tongkrongan.
Namun, bagaimana asal-usul olahraga ini sehingga bisa menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia? Yuk, simak penjelasan selengkapnya!
Baca juga: Patrice Evra Ungkap Perbedaan Serie A dan Premier League: Bagaikan Permainan Catur dan Tinju
Asal Catur
Catur merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang. Medium catur adalah papan berumur 8x8 dengan 16 bidak untuk setiap pemain.
Gelar pemenang didapatkan oleh pemain yang melakukan skakmat terhadap raja bidak lawannya.
Terdengar mudah? Padahal, sebelum bisa melakukan skakmat terhadap raja lawan, kamu harus beradu strategi yang mungkin memakan waktu lama.
Mulai berpikir catur bukan olahraga menyenangkan karena sangat mengedepankan strategi? Pemikiran itu tidak tepat juga. Sebab, catur terbukti telah bertahan lama sejak pertama kali dimainkan pada abab ke-6.
Kamu harus tahu, catur diyakini telah berkembang di India selama abad ke-6. Chaturanga adalah nama catur pada masa itu.
Arti dari chaturanga adalah empat bagian dalam bahasa Sansekerta. Nah, empat bagian itu mewakili empat divisi tentara India, yaitu infanteri (pion), kavaleri (kuda), gajah (uskup), dan kereta perang (benteng).
Pada masa itu, chaturanga dimainkan di papan persegi panjang dengan aturan tertentu. Bentuk papan chaturanga mirip dengan catur era modern, tapi beberapa aturan yang berbeda.
Catur era modern merupakan evolusi setelah berabad-abad dimainkan. Meski ada beberapa perbedaan dari permainan pertamanya, kamu kini tahu bahwa catur diyakini berasal dari India.
Baca juga: Resmi Dilantik Jadi Ketum Percasi DKI, Kenneth Targetkan Tambah Juara Catur
Setelah berkembang di India, permainan catur menyebar ke Iran (dulu Persia). Di sana, catur dikenal dengan nama shatranj.
Peraturan catur di Iran pun sedikit berubah dengan hadirnya konsep skak dan skakmat. Skak berasal dari bahasa Iran shah mat yang berarti raja tidak berdaya.
Catur makin menyebar di dunia setelah diperkenalkan ke dunia Islam. Para penjelajah muslim, yang melakukan perdagangan, menyebarkan permainan ini ke Eropa dan Asia.
Saat tiba di Eropa pada abad pertengahan, permainan catur telah mengalami sejumlah perubahan. Salah satu yang paling berpengaruh, adalah kehadiran ratu sebagai bidak terkuat. Padahal, sebelum tidak ada bidak ratu.
Pada abad ke-15, permainan catur telah makin mendekati dengan apa yang dikenal saat ini.
Baca juga: Pertama Kali dalam Sejarah, PB Percasi Punya Duta Catur Indonesia
Perkembangan Catur di Indonesia
Sementara itu, catur masuk ke Indonesia pada 1915 yang dibawa oleh Belanda. Sejak itu, sejumlah klub catur berdiri di Surabaya, Magelang, Yogyakarta, dan Bandung.
Lalu, Nederlandsch Indische Schaakbond (NISB) atau Perkumpulan Catur Belanda Indonesia berdiri di Yogyakarta. Organisasi ini jadi cikal bakal Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi).
Meski NISB telah berdiri, jumlah pemain catur asli Indonesia masih sedikit pada 1938. Para pemain catur dari Belanda masih mendominasi.
Perkembangan catur sempat terhambat saat Jepang hadir di Indonesia pada 1942. Akan tetapi, olahraga ini mulai menjamur lagi pada 1945, terutama di Pulau Jawa, meski perang bersenjata masih berkecamuk.
Perkembangan catur di Indonesia makin pesat selang tiga tahun. Tak ayal, Persatuan Tjatoer Seluruh Indonesia (Pertjasi) pun berdiri.
Percasi baru ditetapkan sebagai induk olahraga catur di Indonesia pada 17 Agustus 1950. Penyebabnya adalah ketidakpastian situasi karena peralihan kepemimpinan di Indonesia.
Baca juga: Drama di Balik Kepindahan ke Williams, Manajer Carlos Sainz Jr.: Kayak Main Catur!
Pada 1955, Percasi berubah jadi PB Percasi. Bergeliat makin aktif, PB Percasi bergabung dengan Federasi Catur Internasional (FIDE) pada lima tahun berselang.
Hingga kini, olahraga catur terus berkembang dengan melahirkan banyak pecatur Indonesia ternama, seperti Irene Kharisma Sukandar, Susanto Megaranto, dan Utut Adianto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indian Chess Company, Antara