Pesan Atlet Panjat Tebing Kembar Raviandi dan Ravianto Ramadhan: Jangan Takut Gagal dan Jangan Takut Jatuh!
INDOZONE.ID - Di balik sederet prestasi yang diraih atlet panjat tebing kembar Indonesia, Ravianto Ramadhan dan Raviandi Ramadhan, ternyata ada perjalanan panjang dengan segala rintangannya.
Mereka harus melewati proses latihan yang berat, hingga berbagai kegagalan sebelum mampu berdiri sebagai salah satu atlet andalan Indonesia di cabang olahraga (cabor) panjat tebing.
Bagi Ravianto, ketakutan akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti mencoba. Ia menilai setiap orang akan selalu menemukan jalan selama memiliki kemauan untuk terus berusaha.
"Ngga perlu takut gagal, gak perlu takut jatuh. Kalau kita emang mau, kita pengen, pasti semua ada jalan," ungkap Ravianto Ramadhan, dikutip dari trailer Dissidence, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Diluar Nalar, Ini Dia 5 Pesepakbola Pencetak Gol Terjauh di Dunia, Siapa Saja?
Berawal dari Dinding Panjat Sederhana di Rumah
Jauh sebelum dikenal sebagai atlet nasional, Ravianto dan Raviandi memulai langkah mereka dari sebuah dinding panjat sederhana yang dibangun kedua om dan tantenya di rumah kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Fasilitas latihan yang mereka miliki saat kecil, jauh dari kata mewah. Dinding panjat tersebut berada di lantai dua rumah dengan ukuran tidak terlalu besar dan hanya dilengkapi matras sederhana di bagian bawahnya.
Meski demikian, tempat itulah yang menjadi awal mula mereka jatuh cinta terhadap olahraga panjat tebing.
Mulai Menekuni Panjat Tebing Sejak Sekolah Dasar
Ketertarikan yang awalnya sekadar coba-coba, perlahan berubah menjadi keseriusan. Ravianto dan Raviandi mulai fokus menekuni panjat tebing sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Sepulang sekolah, keduanya hampir selalu menghabiskan waktu untuk berlatih. Berkat latihan serius itu, mereka beberapa kali mengukir presrasi di kejuaraan junior tingkat nasional.
Dari sana, Ravianto dan Raviandi mulai menyadari bahwa kemampuan mereka bisa berkembang lebih jauh jika diasah dengan konsisten.
Baca juga: Pebulutangkis Senior dari 14 Negara Ramaikan Persaingan Internasional di Indonesia
Di Balik Prestasi, Ada Air Mata dan Rasa Sakit
Raviandi pernah mengungkapkan bahwa masa latihan sering diwarnai rasa sakit hingga air mata. Tubuhnya kerap terasa sakit saat bangun tidur karena intensitas latihan yang sangat tinggi.
Bahkan, ada kalanya latihan terasa begitu berat hingga membuatnya menangis. Akan tetapi, itu semua tidak membuatnya menyerah begitu saja.
Sebaliknya, pengalaman tersebut justru membentuk mental juara yang kini menjadi salah satu kekuatan utama mereka sebagai atlet profesional.
Pesan si Kembar untuk Mereka yang Takut Gagal
Pesan Ravianto agar tidak takut gagal bukan sekadar motivasi biasa. Kalimat tersebut lahir dari pengalaman panjangnya sendiri selama bertahun-tahun.
Mulai dari berlatih di fasilitas sederhana, menghadapi rasa lelah, mengalami kekalahan, hingga berjuang menjaga konsistensi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan untuk menggapai prestasi.
Kisah Ravianto dan Raviandi membuktikan bahwa kesuksesan seseorang tidak selalu ditentukan oleh fasilitas mumpuni atau jalan yang selalu mulus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan, Liputan, YouTube