INDOZONE.ID - Gelandang andalan Timnas Paraguay, Miguel Almirón, resmi menjadi pemain pertama dalam sejarah sepak bola yang harus diusir keluar lapangan karena kedapatan menutup mulutnya saat terlibat adu mulut di lapangan hijau.
Aturan baru FIFA yang dijuluki 'Prestianni Law' ini diterapkan untuk pertama kalinya dalam laga panas babak penyisihan Grup D antara Paraguay melawan Turki pada hari Jumat kemarin.
Kartu merah langsung ini menjadi buah bibir global karena Almirón dianggap melanggar regulasi terbaru FIFA yang melarang keras pemain menyembunyikan ucapan mereka saat situasi konfrontasi di lapangan.
Baca juga: Piala Dunia 2026: Ruben Dias Sebut Kritik terhadap Cristiano Ronaldo Omong Kosong
Kronologi Kejadian Pengusiran Almiron
Insiden yang bikin geger ini terjadi tepat pada masa injury time babak pertama, di saat Paraguay sebenarnya sedang unggul 1-0 atas Turki.
Semuanya bermula ketika Almirón terlibat aksi adu mulut yang cukup intens dengan pemain Turki, Mert Müldür, pascaterjadinya pelanggaran di dekat lini tengah.
Saat melontarkan kata-kata ke arah Müldür, mantan bintang Newcastle United itu refleks menutup mulutnya menggunakan tangan.
Müldür yang melihat aksi tersebut langsung melayangkan protes keras kepada wasit Ivan Barton. Setelah melakukan peninjauan cepat lewat layar VAR, wasit Barton tanpa ampun langsung mencabut kartu merah langsung dari kantongnya untuk mengusir Almirón dari arena pertandingan.
Baca juga: Tampil Dominan atas Australia, Tuan Rumah AS Susul Meksiko Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026!
Meskipun begitu, beberapa laporan sempat menyebutkan bahwa situasi Almirón ini sedikit rumit dan simpang siur.
Ada dugaan potensi kesalahan dari VAR, di mana insiden tersebut sebenarnya diawali oleh kemungkinan kartu kuning akibat diving sebelum akhirnya berujung pada eksekusi aturan tutup mulut ini.
Perbedaan detail ini tentu bakal krusial banget buat melihat bagaimana regulasi ini dipandang ke depannya.
Mengenal apa itu 'Prestianni Law'"
Regulasi baru yang cukup kontroversial ini akrab disebut di kalangan pencinta sepak bola sebagai Prestianni Law atau Hukum Prestianni.
Lewat aturan ini, perangkat pertandingan diberikan wewenang penuh untuk memberikan kartu merah langsung kepada pemain mana pun yang sengaja menutupi mulut mereka baik pakai tangan, lengan, baju, atau jersey saat bersitegang dengan pemain lawan.
Baca juga: Menang 2-0 atas Australia, Amerika Serikat Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Asal-usul regulasi ini sendiri berakar dari kejadian kelam di laga Liga Champions pada Februari 2026 lalu yang mempertemukan Benfica dengan Real Madrid.
Saat itu, penyerang Benfica asal Argentina, Gianluca Prestianni, dituduh melontarkan kalimat diskriminatif bernada homophobic dan rasis kepada bintang Real Madrid, Vinícius Júnior.
Prestianni sengaja menutupi mukanya dengan jersi agar kalimat kasarnya tidak tertangkap kamera maupun pembaca gerak bibir (lip-readers). UEFA pun akhirnya menjatuhkan sanksi skorsing enam laga kepada Prestianni.
Gerah dengan taktik kotor tersebut, FIFA bersama International Football Association Board (IFAB) resmi mengesahkan aturan baru ini pada akhir April 2026 demi menyapu bersih tindakan diskriminatif di lapangan hijau.
Baca juga: Brace Cunha Bawa Brazil Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026!
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menjadi sosok yang paling vokal dalam mendukung penuh regulasi radikal ini. Infantino menerapkan prinsip yang ia sebut sebagai framework "presumption of guilt".
Artinya, jika ada pemain yang nekat menutupi mulutnya saat berkonfrontasi, wasit sama sekali tidak perlu membuktikan kalimat apa yang diucapkan oleh si pemain.
Aksi menutup mulut itu sendiri sudah sah dianggap sebagai sebuah pelanggaran berat.
"Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan, Anda tidak akan menutupi mulut Anda saat mengatakan sesuatu. Sesederhana itu," tegas Gianni Infantino seperti dikutip dari Yahoo! Sports.
"Jika seorang pemain menutupi mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berujung rasis, dia jelas harus diusir. Harus ada praduga bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang memang tidak boleh diucapkan." tambah Gianni Infantino.
Penerapan perdana aturan ini di Piala Dunia 2026 jelas memicu perdebatan panas di kalangan netizen dan pengamat sepak bola.
Di satu sisi, aturan ini bagus untuk memerangi rasisme, tapi di sisi lain dinilai terlalu kaku dan berlebihan.
Kalau menurut analisis kalian sendiri, apakah Prestianni Law ini sudah adil diterapkan di sepak bola modern, atau justru kartu merah buat Almirón ini terlalu kejam?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan, Yahoo Sports