INDOZONE.ID - Jude Bellingham mengungkapkan bahwa ia pernah menciptakan citra diri yang macho sebagai cara untuk menutupi kerapuhan dirinya yang muncul akibat kritik dan tekanan.
Gelandang berusia 22 tahun ini mengaku, di balik performa tangguhnya di lapangan, ia sempat berjuang menghadapi sisi emosional yang tidak banyak diketahui orang.
Baca juga: Segera Pulih, Xabi Alonso Yakin Jude Bellingham Kembali Bela Real Madrid Sebelum Oktober
Pemain Real Madrid tersebut kini sedang dalam masa pemulihan cedera bahu dan belum kembali memperkuat Timnas Inggris pilihan Thomas Tuchel.
Dalam keterangannya, Bellingham juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap isu kesehatan mental di sepak bola, di mana para atlet sering dituntut untuk selalu terlihat kuat, tanpa celah untuk menunjukkan sisi rapuh mereka.
Dalam wawancara terbarunya, Bellingham mengaku bahwa ia sempat memiliki kebiasaan mencari namanya di Twitter hanya untuk membaca kritik atau mencari validasi dari orang-orang. Kebiasaan itu justru membuatnya semakin tertekan.
Bellingham menyadari bahwa dengan perkembangan media sosial dan teknologi saat ini, siapa pun bisa menjadi sasaran komentar negatif atau serangan daring yang bisa memengaruhi kondisi mental.
Baginya, tekanan di sepak bola modern bukan hanya datang dari lapangan, tetapi juga dari dunia maya.
Setiap kesalahan kecil bisa menjadi bahan perbincangan, dan hal itu tidak mudah dihadapi, terutama bagi pemain muda yang masih mencari keseimbangan antara performa dan kesehatan mental.
“Saya rasa, masih ada stigma ketika seseorang berbicara tentang kesehatan mental," kata Bellingham.
"Saya pernah berada di titik di mana saya merasa rentan, meragukan diri sendiri, dan sebenarnya membutuhkan seseorang untuk diajak bicara," lanjutnya.
"Namun, saya justru berusaha menampilkan citra sebagai atlet macho yang seolah tidak membutuhkan siapa pun,” tutupnya.
Baca juga: Gary Neville Balas Keras Kritik Ruben Amorim: Pemain Manchester United Harus Punya Mental Baja!
Bellingham mengakui bahwa citra macho yang ia tunjukkan dulu hanyalah bentuk pelindung diri dari tekanan besar yang datang dari publik dan media.
Ia menegaskan bahwa semua orang, termasuk atlet profesional, membutuhkan dukungan emosional.
Menurutnya, berbagi cerita dan perasaan justru bisa membuat beban terasa lebih ringan dan membantu menjaga keseimbangan mental.
Setelah perjalanan Timnas Inggris ke final EURO 2024, Bellingham sempat merasa dijadikan kambing hitam oleh sebagian publik.
Sorotan terhadap sikap dan perilakunya membuatnya berpikir ulang tentang bagaimana ia menghadapi tekanan di luar lapangan.
Baca juga: Jordan Henderson: Saya Kembali ke Timnas Inggris untuk Bermain, Bukan Jadi Cheerleader
Kini, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, ia mengaku lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Keputusan itu diambil bukan karena ingin menutup diri, melainkan sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara karier dan kesehatan mental.
Bellingham percaya bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal fisik dan performa di lapangan, tetapi juga kemampuan untuk mengenali emosi dan berani berbicara tentang apa yang dirasakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Daily Mail UK