Ilustrasi tekel dalam sepak bola. (Freepik/fefy07122532)
INDOZONE.ID - Sepak bola merupakan olahraga paling populer di dunia yang memberikan tontonan seru lewat strategi tim, skill individu hingga gol-gol spektakuler.
Namun di balik itu semua, sepak bola juga dikenal sebagai olahraga paling kompetitif dan penuh emosi. Maka tak heran jika olahraga ini punya sisi gelap yang menarik untuk dibahas.
Sepanjang sejarah, ada banyak pertandingan sepak bola berubah menjadi tragedi 'horor', di mana tekel brutal menyebabkan cedera parah dan membuat karier pemain tamat.
Baca juga: Atlet Sepak Bola Putri Iran yang Dapat Suaka dari Australia Bertambah 2 Orang
Artikel ini akan membahas daftar tekel brutal sepanjang sejarah sepak bola yang wajib kamu tahu.
Kalau ngomongin tekel mematikan, tekel Roy Keane ke Alf-Inge Haaland di laga Derby Manchester tahun 2001 selalu menarik untuk dibahas.
Saat itu, Roy Keane melepaskan tendangan setinggi lutut yang sangat keras ke kaki kanan Alf-Inge Haaland.
Akibat tekel itu, Haaland mengakami cedera parah pada lututnya. Meski sempat comeback, namun cedera lutut yang tak kunjung sembuh itu memaksa Haaland mengakhiri kariernya.
Tekel ini tercipta karena dendam kesumat Roy Keane terhadap ayah Erling Haaland tersebut. Keane menyimpan dendam ini sejak tahun 1997 karena Haaland sempat mengejeknya saat mengalami cedera cruciate ligament.
Insiden tekel brutal lainnya menimpa pemain Arsenal, Eduardo da Silva. Tekel yang dilakukan Martin Taylor membuat kaki Eduardo patah.
Tekel itu terjadi di bulan Februari 2008, saat Arsenal bertemu Birmingham City. Saking brutalnya, siaran televisi enggan menayangkan ulang adegan tersebut.
Benturan yang dilakukan Taylor mematahkan tulang fibula kiri Eduardo dan menyebabkan dislokasi pergelangan kaki yang sangat parah.
Wasit tanpa pikir panjang langsung memberikan kartu merah ke Taylor.
Eduardo butuh waktu hampir setahun untuk kembali merumput. Namun cedera itu membuat performanya turun dan kariernya benar-benar tenggelam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Physio Room