Ilustrasi sejarah bola voli. (Dok. Gemini Ai)
INDOZONE.ID - Banyak orang mengenal bola voli sebagai olahraga yang penuh dengan spike keras dan reli panjang yang mendebarkan.
Namun, jika kita memutar kembali jarum jam ke akhir abad ke-19, olahraga ini justru lahir sebagai antitesis dari permainan fisik yang melelahkan.
Ini adalah kisah tentang bagaimana kreativitas seorang direktur olahraga menciptakan fenomena global.
Baca juga: Mengulik Sejarah PBVSI: Pengertian, Tujuan dan Peran Terhadap Bola Voli Indonesia
Pada tahun 1895, William G. Morgan, seorang Direktur Pendidikan Jasmani di YMCA Holyoke, Massachusetts, menghadapi sebuah tantangan.
Bola basket, yang baru saja diciptakan oleh koleganya James Naismith, sedang digandrungi. Namun, bagi para anggota YMCA yang berusia lebih tua, basket dirasa terlalu kasar dan menuntut kontak fisik yang berat.
Morgan pun meramu sebuah permainan baru yang ia beri nama "Mintonette". Tujuannya sederhana: menciptakan olahraga dalam ruangan yang kompetitif namun minim benturan fisik.
Baca juga: Kenalan dengan Posisi Pemain Voli dan Tugasnya di Lapangan
Nama Mintonette tidak bertahan lama. Setahun setelah diciptakan, dalam sebuah demonstrasi di Springfield College, seorang pengamat bernama Alfred Halstead menyadari karakteristik unik permainan ini.
Ia melihat bola terus-menerus dipukul bolak-balik (melakukan volley) di atas net tanpa menyentuh lantai. Halstead mengusulkan agar nama permainan tersebut diubah menjadi "Volley Ball".
Morgan setuju, dan sejak saat itu, identitas olahraga ini sebagai permainan yang mengandalkan refleks udara pun dikukuhkan.
Bola voli menyebar secepat kilat melalui jaringan YMCA. Pada tahun 1900, Kanada menjadi negara pertama yang mengadopsi olahraga ini di luar Amerika Serikat.
Tak butuh waktu lama bagi voli untuk menyeberangi samudra ke Asia melalui Filipina dan Jepang (1908-1913).
Beberapa tonggak sejarah penting meliputi:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Olympics