Sabtu, 06 DESEMBER 2025 • 12:59 WIB

Dulu Ditakuti, Sekarang Berjuang Keluar dari Degradasi: Kenapa Fiorentina Melempem?

Author

Moise Kean saat bermain di Fiorentina. (REUTERS/Jennifer Lorenzini)

INDOZONE.ID - Pemandangan tabel klasemen Serie A musim 2025/26 sejauh ini menyajikan sebuah anomali yang membuat dahi para penggemar Calcio berkerut. 

Bukan tentang siapa yang sedang memimpin perburuan Scudetto, melainkan tentang siapa yang terpuruk di dasar klasemen. 

Di sana, tepatnya di zona merah yang menakutkan, bertengger sebuah nama besar yang seharusnya menjadi penantang Eropa, ACF Fiorentina. 

Bagi generasi yang tumbuh melihat kehebatan La Viola mengganggu dominasi Juventus, AC Milan, dan Inter, situasi ini terasa seperti sebuah "glitch" dalam simulasi sepak bola.

Baca juga: Hasil Lengkap Drawing Fase Grup Piala Dunia 2026: Duel Erling Haaland vs Kylian Mbappe Tersaji di Grup I

Stadion Artemio Franchi yang biasanya bergemuruh oleh sorak-sorai kebanggaan, kini lebih sering diselimuti awan kelabu kekecewaan. 

Klub yang identik dengan warna ungu yang elegan ini sedang mengalami krisis identitas parah. 

Alih-alih bersaing memperebutkan tiket ke Liga Champions atau setidaknya menjaga tradisi di Conference League, tim dikenal dengan julukan La Viola ini justru harus berjuang mati-matian hanya untuk sekadar bertahan di kasta tertinggi sepak bola Italia. 

Hal ini bukan lagi sekadar performa buruk, melainkan mode bertahan hidup.

Realita Pahit di Zona Merah

Melihat Fiorentina terjerembab di zona degradasi adalah sebuah kejutan budaya bagi penikmat Serie A. 

Padahal, secara historis dan finansial, mereka memiliki sumber daya untuk setidaknya berada di posisi tujuh besar. Namun, sepak bola tidak dimainkan di atas kertas. 

Baca juga: Joan Laporta Dukung Keputusan Ronald Araujo untuk Cuti Sejenak dari Barcelona

Musim ini, lini pertahanan mereka tampak rapuh dan kehilangan kohesi, sementara lini serang seolah lupa caranya mencetak gol. 

Kehilangan poin dari tim-tim promosi atau tim papan bawah lainnya menjadi kebiasaan baru yang mengkhawatirkan.

Tercatat bahwa Fiorentina selama 13 laga, 6 di antaranya adalah imbang. Sisanya? Kekalahan. 

Fiorentina sama sekali belum meraih kemenangan, yang menyebabkan terjebak di posisi 19 klasemen sementara tepat satu tingkat di bawah AC Pisa (tim promosi Serie B) yang baru sekali meraih kemenangan.

Selain tren buruk di klasemen, kritik pun menukik tajam ke tim berjuluk La Viola itu. 

Curva Fiesole, basis suporter garis keras Fiorentina, mulai kehilangan kesabaran. 

Baca juga: Presiden Prabowo Siapkan Bonus Rp1 Miliar untuk Atlet Indonesia Peraih Medali Emas SEA Games 2025

Spanduk protes mulai bermunculan, menuntut pertanggungjawaban dari manajemen dan pemain. Atmosfer di Florence sedang tidak baik-baik saja. 

Tekanan mental ini justru menjadi beban tambahan bagi para pemain muda yang seharusnya menjadi tulang punggung tim, membuat kaki-kaki mereka terasa berat setiap kali melangkah ke lapangan.

Transisi yang Dinilai Gagal?

Melansir berbagai sumber, salah satu alasan mengapa Fiorentina tak segarang sebelumnya adalah manajemen skuad di bursa transfer musim panas lalu. 

Upaya peremajaan skuad yang terlalu drastis tanpa mempertahankan figur senior yang mumpuni disinyalir menjadi penyebab hilangnya karakter tim. 

Ketika menghadapi tim-tim raksasa yang mapan secara mental seperti Inter Milan atau Juventus, Fiorentina terlihat inferior bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan.

Baca juga: Tanpa Portugal, Lionel Messi Ungkap 5 Tim yang Bisa Mengancam Argentina di Piala Dunia 2026

Selain itu, inkonsistensi taktik juga menjadi sorotan. Perubahan formasi yang terlalu sering dilakukan demi mencari formula kemenangan justru membuat para pemain kebingungan di lapangan. 

Chemistry antar lini tidak terbentuk dengan baik, menjadikan permainan Fiorentina mudah dibaca dan dipatahkan oleh lawan. 

Mereka kehilangan sengatnya, berubah dari tim yang "ditakuti" menjadi lumbung poin bagi lawan.

Misi Penyelamatan Marwah La Viola

Meski situasi terlihat suram, musim 2025/26 masih panjang. Vonis degradasi belum diketuk palu. Harapan untuk bangkit masih terbuka lebar asalkan ada perubahan radikal dalam mentalitas tim. 

Sejarah mencatat bahwa Fiorentina adalah tim yang memiliki DNA petarung. Mereka pernah bangkit dari kebangkrutan di awal tahun 2000-an, dan semangat itulah yang harus dipanggil kembali sekarang.

Minggu (06/12/2025) malam nanti adalah ujian selanjutnya bagi La Viola menghadapi Sassuolo di kandang mereka. 

Bawa pulang 3 poin jelas itu misi utama Fiorentina agar tak terus terjebak dalam tren negatif.

Baca juga: Didukung Investor Arab Saudi, Newcastle United Ingin Jadi Klub Terbaik di Dunia pada 2030

Sisa musim ini adalah ujian karakter yang sesungguhnya. Setiap pertandingan kini bernilai layaknya sebuah final. 

Fiorentina tidak perlu memikirkan bagaimana cara mengalahkan Inter atau Napoli untuk saat ini, mereka hanya perlu fokus mengumpulkan poin demi poin untuk keluar dari lumpur degradasi. 

Menjaga marwah klub bukan lagi soal trofi, tapi soal harga diri agar tidak terlempar ke Serie B. 

Florence layak mendapatkan yang lebih baik, dan kini saatnya para pemain membuktikan bahwa seragam ungu itu masih memiliki magisnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU