INDOZONE.ID - Piala Dunia FIFA merupakan turnamen sepak bola dunia yang digelar setiap empat tahun sekali. Kompetisi antar negara ini pertama kali digelar pada 1930 dan hingga kini menjadi ajang olahraga paling bergengsi di dunia.
Menjadi tuan rumah Piala Dunia merupakan sebuah kehormatan besar. Sebab negara yang ditunjuk otomatis jadi peserta Piala Dunia tanpa perlu mengikuti jalur kualifikasi.
Namun, menjadi tuan rumah membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membangun infrastruktur, peremajaan fasilitas standar FIFA serta biaya operasional lainnya.
Baca juga: Daftar Juara Piala Dunia Terbanyak Sepanjang Sejarah, Siapa Paling Dominan?
Meski begitu, terdapat manfaat jangka panjang, terutama bagi sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi negara penyelenggara.
Qatar Pegang Rekor Biaya Piala Dunia Sepanjang Sejarah
Piala Dunia Qatar 2022 mencatatkan angka yang mencengangkan, yakni sekitar $220 miliar. Sebagai perbandingan, biaya penyelenggaraan Piala Dunia Rusia 2018 "hanya" berkisar $11,6 miliar.
Anggaran besar ini mencakup pembangunan stadion futuristik, infrastruktur transportasi (metro, jalan raya hingga bandara), serta hotel dan fasilitas pariwisata lainnya.
Sebagian besar biaya sebenarnya bukan untuk stadion, melainkan transformasi nasional Qatar secara menyeluruh.
Tren Pengeluaran: Semakin Mahal dari Tahun ke Tahun
Data menunjukkan bahwa biaya penyelenggaraan Piala Dunia cenderung meningkat setiap edisi. Meski ada pengecualian seperti Spanyol yang mengeluarkan biaya sangat besar lebih awal dari tren, secara keseluruhan pengeluaran terus naik.
Brasil menghabiskan dana besar pada 2014 karena kebutuhan percepatan pembangunan stadion. Sementara Rusia pada 2018 tercatat mengeluarkan biaya lebih rendah dari perkiraan, meski hal ini diduga terkait pelaporan yang tidak sepenuhnya transparan.
Sumber Pendapatan: Siaran TV Jadi Andalan
Di sisi lain, negara tuan rumah juga berupaya menutup biaya melalui berbagai sumber pendapatan.
Pendapatan terbesar berasal dari hak siar televisi, yang secara konsisten menjadi sumber utama pemasukan. Disusul oleh sponsor, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memberikan kontribusi cukup signifikan.
Sementara itu, penjualan tiket justru menjadi sumber pendapatan paling kecil dibandingkan yang lain.
Dalam beberapa dekade terakhir, pendapatan dari Piala Dunia meningkat drastis hingga mencapai miliaran dolar, mencerminkan popularitas global turnamen ini yang terus berkembang.
Jika disesuaikan dengan inflasi, ada beberapa anomali menarik. Misalnya, Amerika Serikat pada 1994 mencatat pendapatan sponsor yang sangat tinggi. Hal ini kemungkinan dipengaruhi kondisi ekonomi global saat itu, di mana AS sedang mengalami resesi sehingga nilai relatif pendapatan terlihat lebih menonjol.
Tuan Rumah Bersama: Hemat Anggaran
Konsep tuan rumah bersama menjadi salah satu solusi untuk mengatasi tingginya biaya penyelenggaraan.
Hal ini pertama kali dilakukan pada Piala Dunia 2002 oleh Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara berbagi biaya sekaligus pendapatan, serta menyelenggarakan pertandingan di masing-masing wilayah.
Final turnamen tersebut digelar di Jepang, dengan Brasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Jerman.
Model ini dinilai efektif karena mampu mengurangi beban finansial sekaligus memaksimalkan sumber daya. Ke depan, tren ini diperkirakan akan semakin sering digunakan, termasuk pada Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Antara Beban dan Peluang
Piala Dunia FIFA bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga proyek ekonomi berskala besar. Di satu sisi, biaya yang dikeluarkan sangat besar dan berisiko. Namun di sisi lain, potensi keuntungan jangka panjang dari sektor pariwisata, infrastruktur, dan citra global membuat banyak negara tetap berlomba-lomba menjadi tuan rumah.
Baca juga: 7 Nama yang Siap Curi Perhatian di Piala Dunia 2026, Siapa Aja Ya?
Pada akhirnya, menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah soal keseimbangan antara investasi besar dan peluang keuntungan jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Storymaps.arcgis