INDOZONE.ID - Ada sebuah adegan ikonik yang terus berulang dalam sepak bola khususnya Piala dunia di 20 tahun terakhir ini yakni seorang pria dengan jersey nomor 10 berlari, meliuk melewati hadangan bek yang berusia satu dekade lebih muda darinya, lalu dengan dingin menyarangkan bola ke pojok gawang.
Selasa, 23 Juni 2026, pemandangan itu kembali tersaji di lanjutan fase group Piala Dunia 2026 . Austria menjadi saksi bagaimana Lionel Messi, di usianya yang sudah menginjak 38 tahun, seperti menolak patuh pada hukum penuaan.
Dua golnya malam itu bukan sekadar membawa Argentina berjaya di fase grup dan meraih poin sempurna melainkan sebuah deklarasi bahwa perdebatan tentang siapa Greatest of All Time (GOAT) sudah berakhir.
Mencetak Rekor Baru
Sebelum turnamen ini dimulai, catatan 16 gol milik striker legendaris Jerman, Miroslav Klose, dianggap sebagai salah satu rekor Piala Dunia yang paling sulit digeser dan sulit terlewati.
Butuh konsistensi robotik selama empat edisi bagi Klose untuk mencapainya. Namun, Messi memperlakukannya seperti itu hanyalah angka biasa atau sesuatu yang sama sekali bukan menjadi targetnya.
Setelah sempat menyamai rekor tersebut, dua gol ke gawang Austria mengantarkan La Pulga bertengger sendirian ke puncak tertinggi pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 18 gol.
Baca juga: Lionel Messi Top Skor Sepanjang Masa Piala Dunia: Lewati Klose, tapi dalam Pantauan Mbappe
Tentunya angka ini masih sangat mungkin bertambah, mengingat Messi dkk masih akan terus menjalani pertandingan di Piala Dunia 2026.
Anomali Usia 38 Tahun
Bagi pesepakbola normal, jika sudah menginjak usia 38 tahun adalah waktu untuk menikmati masa pensiun dengan bersantai, menyaksikan generasi berikutnya bertanding atau menjadi mentor dari pinggir lapangan.
Namun Messi menampilkan anomali yang membuat tim analisis data geleng-geleng kepala. Lima gol hanya dalam dua pertandingan.
Efisiensi dan ketajaman ini bahkan lebih mengerikan ketimbang saat ia memenangkan Ballon d'Or pertamanya belasan tahun lalu.
Baca juga: Penyebab Tangis Lionel Messi di Piala Dunia 2026, Ternyata karena Ini
Messi tidak lagi berlari sepanjang laga melainkan hanya berjalan, membaca ruang, menangkap momentum, dan mengeksekusi peluang dengan presisi seorang ahli bedah.
Akhir Perdebatan GOAT?
Selama hampir dua dekade, dunia sepak bola terbelah menjadi dua sekte besar antara loyalis Messi dan pemuja Cristiano Ronaldo. Rivalitas ini adalah bahan bakar yang membakar gairah sepak bola modern.
Namun, Piala Dunia 2026 ini memberikan kontras yang terlalu mencolok, bahkan mungkin terlalu kejam bagi kubu sebelah.
Di saat Messi memimpin Argentina dengan magis dan ketenangan, Ronaldo justru terjebak dalam pusaran drama. Angka nol di papan skornya bukan masalah utama, melainkan rentetan drama di dalam dan luar lapangan yang mengikis sisa-sisa kejayaannya.
Messi sudah mencetak 5 gol sementara Ronaldo belum mencetak gol sebiji pun. Ini bukan lagi soal statistik di atas kertas, melainkan soal bagaimana kedua megabintang ini menyambut senjakala karier mereka.
Baca juga: Messi, Mbappe dan Haaland Awali Piala Dunia 2026 dengan Gemilang, Ronaldo Kok Melempem?
La Pulga memilih bertransformasi menjadi dirigen yang dicintai rekan setimnya, sementara Ronaldo tampak kesulitan berdamai dengan waktu yang mulai meninggalkannya.
Piala Dunia kali ini bukan lagi sekadar panggung berburu trofi ketiga bagi Argentina, melainkan upacara pengukuhan. Kita tidak sedang menyaksikan seorang pemain hebat di akhir karirnya dan kita sedang menyaksikan sejarah ditulis langsung oleh pemiliknya.
Bagi para penggemar sepak bola termasuk fans garis keras Cristiano Ronaldo, menerima kenyataan ini bukanlah sebuah kekalahan. Ini adalah bentuk rasa hormat kepada sepak bola itu sendiri.
Nikmati saja sisa sihirnya, karena setelah turnamen ini usai, kita mungkin butuh waktu satu abad lagi untuk melihat manusia yang bisa melakukan apa yang Messi lakukan.Messi memang se-GOAT itu!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: FIFA, Analisis Redaksi