Menanti Titik Balik Sepak Bola Indonesia usai Gagal ke Piala Dunia: Mau Berbenah atau Tetap Stagnan?
INDOZONE.ID - Impian Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2026 sudah pupus. Kegagalan Skuad Garuda mentas di panggung dunia membuat seluruh publik sepak bola Tanah Air kecewa.
Bagaimana tidak, Timnas Indonesia hanya berjarak 180 menit untuk bisa lolos otomatis ke Piala Dunia 2026. Akan tetapi, kenyataan berkata lain, Timnas Indonesia harus mengubur mimpi mereka untuk pertama kali sejak 1938.
Timnas Indonesia kalah dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) di Grup B, Putaran Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Tentu saja, kekalahan itu memicu kekecewaan pencinta sepak bola Indonesia yang berujung kritik pada PSSI dan pemecatan Patrick Kluivert serta tim kepelatihannya.
Namun, di lain sisi, sebagai penikmat sepak bola, tidak boleh menutup mata bahwa Timnas Indonesia belum siap bersaing di level dunia. Sebab, masih banyak yang harus diperbaiki oleh federasi agar sepak bola Tanah Air bisa bersaing di level dunia.
Ada beberapa hal yang harus dibenahi oleh PSSI dalam perkembangan sepak bola Indonesia, mulai dari membuat sistem profesional serta berkelanjutan, meliputi perbaikan grassroot, pembinaan usia muda, peningkatan sistem liga hingga menambah infrastruktur berkualitas.
PSSI tidak boleh hanya fokus ke Timnas Indonesia saja. Federasi wajib turun tangan untuk membenahi grassroot dan pembinaan usia muda, supaya blueprint sepak bola kita membuahkan hasil di masa mendatang.
Saat ini, banyak pemain keturunan yang memperkuat Timnas Indonesia. Akan tetapi, kita tidak selamanya mengandalkan program pemain keturunan yang dinaturalisasi.
Patut diingat, langkah PSSI menaturalisasi para pemain keturunan hanya bersifat akselerasi jangka pendek, bukan jangka panjang.
Baca juga: Langka! Kedua Kali dalam Sejarah 1.500 Tahun, Turnamen Sumo Digelar di Luar Jepang
Sepak Bola Indonesia Harus Belajar dari Jepang
Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia, bukan akhir dari segalanya. Sebab, kegagalan ini bisa jadi titik balik sepak bola Indonesia untuk mulai membenahi seluruh sistemnya, termasuk grassroot dan pembinaan.
Jika kita menilik sepak bola Jepang, mereka sempat berada di posisi Indonesia yang gagal ke Piala Dunia. Saat itu, Jepang gagal ke Piala Dunia 1994 usai ditahan imbang Irak 2-2 yang digelar pada Oktober 1993. Peristiwa tersebut dinamakan "Agony of Doha".
Padahal, Jepang saat itu membutuhkan kemenangan untuk lolos ke Piala Dunia 1994. Akan tetapi, gol Jaffran Omran membuyarkan mimpi Samurai Biru untuk lolos ke Piala Dunia.
Kegagalan tersebut menjadi pemicu Jepang untuk membangun sistem yang lebih profesional dan berkelanjutan. Selain itu, mereka juga membuat program 100 tahun untuk sepak bola mereka yang dikenal dengan The Japan's Way.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) menargetkan Jepang menjadi juara Piala Dunia sebelum 2092 dengan fondasi utama J.League yang diikuti dengan pembinaan usia muda.
Baca juga: ESPN: Langkah PSSI Angkat dan Pecat Patrick Kluivert Membingungkan
Program yang dicanangkan Jepang, kini muali terlihat hasilnya. Kini, para pemain Jepang berkarier di liga top Eropa. Bahkan, Samurai Biru belum pernah absen sama sekali dari Piala Dunia sejak pertama kali tampil pada 1998 lalu.
Tentu saja, kisah sepak bola Jepang bisa jadi bahan pembelajaran bagi sepak bola Indonesia, terutama PSSI untuk mulai merubah sistem yang lebih profesional dan berkelanjutan. Harapannya, Timnas Indonesia bisa bersaing di level dunia.
Pada dasarnya, sepak bola adalah budaya bagi suatu negara, bukan hanya Timnas Indonesia saja melainkan seluruh aspek. Mari berharap Timnas Indonesia dan sepak bola Tanah Air makin maju!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan, Reuters