INDOZONE.ID - Lari yang dulu kerap disebut sebagai olahraga termudah dan termurah, kini sudah naik level. Bahkan, kini muncul istilah pelari kalcer yang menjadi perbincangan hangat, terutama di antara Milenial dan Gen Z.
Meski tetap dapat dilakukan tanpa harus keluar banyak biaya, lari kini jadi sebuah cara untuk menunjukkan eksistensi diri.
Eksistensi diri itu tercermin dari istilah pelari kalcer. Istilah itu merujuk pada pelari yang amat memperhatikan gaya berpakaian, bersepatu, dan berbagai perlengkap hingga peralatan untuk berlari.
Terinspirasi dari fenomena tersebut, komika Sastra Silalahi bersama Mamang Kesbor mengeluarkan lagu berjudul “Pelari Kalcer” pada tahun lalu.
Baca juga: Kapan Waktu Ideal Olahraga Lari Saat Puasa? Ini Penjelasannya
Salah satu penggalan liriknya menggambarkan bagaimana pelari kalcer lebih mementingkan gaya ketimbang kecepatannya.
“Panggil aku pelari konten. Gapapa pace keong yang penting gayaku paten.”
Saat berolahraga, para pelari kalcer biasanya mengabadikan momen itu dengan mengunggahnya ke media sosial (medsos) masing-masing.
Tak ayal, lari telah naik kelas bagi para pelari kalcer. Lebih dari sekadar olahraga, lari kini jadi gaya hidup yang keren bagi Milenial dan Gen Z.
Fenomena pelari kalcer menunjukkan ada perubahan di masyarakat. Sudut pandang masyarakat terhadap lari telah berbeda karena mulai terkait dengan perilaku konsumtif.
Seseorang yang dikategorikan pelari kalcer, membentuk identitas dengan simbol visual, konsumsi barang, serta partisipasi dalam komunitas.
Eksistensi dan Ruang Sosial Pelari
Para pelari kalcer menjadikan olahraga lari untuk menunjukkan dirinya, baik di kehidupan nyata maupun dunia digital.
Aktivitas lari di ruang publik menciptakan pengalaman kolektif yang mengandung makna eksistensial. Lari jadi bentuk mengklaim ruang publik, yakni tubuh mengambil alih tempat yang biasa digunakan kendaraan.
Tubuh pelari kalcer jadi medium untuk mengekspresikan dan menyuarakan nilai-nilai kebebasan, ketahanan, dan keseimbangan hidup.
Gaya Hidup dan Budaya Konsumtif
Bagi para pelari kalcer, lari kini sudah menjadi gaya hidup yang bahkan akrab dengan budaya konsumtif.
Sebelumnya, lari dianggap sebagai olahraga murah dengan tujuan hidup sehat, baik fisik maupun mental. Kini, lari tidak cuma soal menjadi bugar dan sehat, tapi gaya hidup.
Baik saat berlari sendiri maupun bersama komunitas, lari telah menjadi medium untuk menunjukkan modernitas dengan segala perlengkapan mutakhirnya.
Dalam dunia lari, perlengkapan olahraga ini sudah berada di harga yang dikategorikan mahal, apalagi untuk merek tertentu. Nilai perlengkapan lari itu secara tidak langsung menunjukkan kelas sang pelari.
Sementara itu, selain modernitas, nilai kesehatan dan produktivitas juga tercermin dari olahraga lari di masa sekarang.
Lari telah mengalami komodifikasi dengan nilai-nilai kesehatan berpadu dengan logika pasar dan citra diri.
Solidaritas Kolektif
Selain itu, meningkatkannya tren lari secara tidak langsung memperbanyak komunitas olahraga tersebut di Indonesia.
Komunitas lari itu menjadi tempat berekspresi, mendapatkan dukungan sosial, dan menjaga kesehatan bersama.
Baca juga: Start Jongkok dalam Lari Jarak Pendek: Teknik, Tahapan, dan Kesalahan yang Perlu Dihindari
Tak ayal, lari bukan lagi jadi olahraga, melainkan praktik sosial yang meneguhkan solidaritas dan kohesi sosial.
Implikasi Budaya dan Sosial
Menilik perkembangan lari sekarang, olahraga jadi praktik sosial yang sarat makna simbolik, bukan aktivitas netral semata. Olahraga ini telah mengalami pergeseran nilai di masyarakat.
Seperti uang koin, pergeseran nilai lari juga memiliki sisi negatif. Sebut saja, pelari dengan perlengkapan standar atau biasa saja, bisa merasa kurang diterima.
Itu menandakan solidaritas komunitas masih dapat dipengaruhi oleh status simbolik yang melekat pada seseorang.
Oleh sebab itu, komunitas harus bisa menyeimbangkan kebersamaan dan kesadaran kritis terhadap komersialisasi olahraga lari.
Fenomena pelari kalcer menunjukkan perubahan nilai olahraga lari dalam masyarakat urban. Lari bukan hanya sekadar olahraga, melainkan praktik sosial, budaya, dan simbolik yang kompleks.
Lari jadi sarana untuk menunjukkan eksistensi sosial, serta membangun gaya hidup yang selaras dengan nilai-nilai urban terkini.
Baca juga: Mengenal Shuttle Run: Latihan Lari Bolak-Balik untuk Melatih Kelincahan dan Kecepatan
Eksistensi sosial oleh para pelari kalcer umumnya ditunjukkan melalui perlengkapan mahal yang mereka pakai, keanggotaan dalam komunitas, dan aktivitas di media sosial.
Jadi, apakah kamu termasuk orang yang sekadar berolahraga lari atau telah menjadi pelari kalcer?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan, Unesa, Jurnal Ilmiah Multidisipliner