Rabu, 27 MEI 2026 • 11:05 WIB

Kisah Perjuangan Como 1907: Dari Klub yang Hampir Bangkrut Hingga Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions

Author

Como lolos ke Liga Champions musim depan. (REUTERS/Daniele Mascolo)

INDOZONE.ID - Como 1907 baru saja mencetak sejarah, dengan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Hal itu setelah mereka mengalahkan Cremonese pada pekan terakhir Serie A, pada Minggu malam waktu setempat, atau Senin (25/5/2026) dini hari WIB.

Bertanding di Stadio Giuseppe Zini, Como berhasil meraih kemenangan 1-4 atas Cremonese. Keempat gol Como dicetak oleh Jesus Rodriguez (35'), Anastasios Douvikas (50), dan juga brace Lucas Da Cunha (73' via penalty, 80'). Sementara itu, satu-satunya gol Cremonese dicetak oleh Federico Bonazolli pada menit ke-54 via penalty.

Tentu saja, kemenangan atas Cremonese membuat Como berhasil menorehkan sejarah baru. Sebab, klub yang dimiliki oleh Djarum Group tersebut, lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya setelah dua tahun mereka promosi ke Serie A.

Banyak perjuangan yang harus dilalui oleh Como untuk menjadi kekuatan baru di Serie A seperti saat ini. Bahkan, mereka juga berhasil mengganggu persaingan 4 besar yang biasanya diisi oleh tim-tim seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli dan Juventus.

Lantas, bagaimana perjuangan Como yang dari tadinya hanya sebagai klub antah berantah yang hampir bangkrut, hingga menjadi tim yang sukses cetak sejarah lolos ke Liga Champions musim depan. Yuk simak!

Baca juga: Tottenham Hotspur Masih Kepincut untuk Datangkan Savinho dari Manchester City

Kisah Perjuangan Como untuk Jadi Kekuatan Baru Serie A dan Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions

Como pastikan lolos ke Liga Champions musim depan (Instagram @comofootball)

Perjuangan Como untuk menjadi tim kuat seperti saat ini, memanglah tidak mudah. Sebelum Djarum Group datan untuk mengakuisisi klub berjuluk I Lariani itu, mereka dalam kondisi yang cukup memprihatinkan yang mana mereka saat itu hampir bangkrut.

Hingga akhirnya pada tahun 2019, Djarum Group melalui SENT Entertainment akhirnya mengakuisisi Como. Saat itu, mereka mengakuisisi klub dengan dana yang cukup terbatas.

Dalam wawancaranya beberapa tahun lalu, Mirwan Suwarso yang saat ini menjabat sebagai presiden Como, mengatakan, dulu Djarum Group membeli Como dengan biaya yang kurang dari Rp5 milyar.

"Kami belinya tak sampai Rp5 milyar," kata Mirwan Suwarso, dikutip dari akun X/Firzie Idris.

Baca juga: Lengkap! Jadwal Final Liga Champions Musim Ini: Arsenal Juara Perdana atau PSG Pertahankan Trofi?

"Istilahnya, kami menebus di pegadaian. Kami hanya memastikan karyawan mereka gajinya terselesaikan," sambungnya.

Dengan biaya tersebut, Djarum Group berhasil membawa Como bangkit dari keterpurukan setelah alami kebangkrutan pada 2017 lalu. Alhasil, mereka akhirnya berhasil promosi ke Serie C pada tahun 2019 lalu.

Kemudian mereka juga berhasil membawa Como promosi ke Serie B pada musim 2021/22 lalu. Perjalanan mereka untuk promosi ke Serie A juga tidaklah mudah, mereka membutuhkan waktu setidaknya 3 musim di Serie B, hingga akhirnya mereka promosi ke Serie A di musim 2024/25 lalu setelah mereka finish sebagai runner-up di Serie B.

Itu artinya, Como baru menjalani dua musim di Serie A. Meski begitu, dalam waktu yang cukup singkat mereka berhasil bersaing di papan atas di divisi teratas sepak bola Italia, terbukti pada musim pertama klub berjuluk I Lariani di Serie A, mereka mampu finish di 10 besar.

Baca juga: Kisah Beckham Menjadi Pemilik Inter Miami: Dari Pemain hingga Punya Klub Sepak Bola!

Selebrasi gol Anastasios Douvikas ke gawang Verona pada pertandingan Serie A, pada Minggu. (10/5/2026). (Instagram/comofootball)

Namun pada musim ini, Como berhasil cetak sejarah dengan finish di posisi 4 besar, sekaligus lolos ke Liga Champions musim 2026/27.

Kebangkitan Como ini tentunya cukup berbeda dengan pola investasi klub Eropa lainnya, yang lebih mengedepankan belanja jor-joran sejak awal.

Justru Djarum Group memilih untuk melakukan pendekatan bertahap. Mereka membangun klub dari bawah, memperkuat struktur dan menaikkan kualitas klub secara perlahan.

Bahkan pada musim panas lalu, Como mendatangkan 11 pemain anyar. Namun, 5 pemain di antaranya merupakan pemain pinjaman yang akhirnya dipermanenkan.

Baca juga: Sejarah Thomas Cup: Turnamen Tertua Bulu Tangkis untuk Regu Putra yang Masih Bergengsi

Pengeluaran terbesar Como pada jendela transfer musim panas 2025 lalu adalah 22,5 juta Euro untuk mendatangkan pemain muda Real Betis, Jesus Rodriguez.

Sementara itu, Como juga menambah dua pemain baru pada jendela transfer Januari lalu, dengan biaya tertinggi di kisaran 12 juta Euro saja. Tentu saja, dengan strategi tersebut membuat pertumbuhan klub tetap terkendali.

Kehadiran Cesc Fabregas sebagai pelatih Como menjadi salah satu faktor penting. Menariknya, mantan juara Piala Dunia 2010 itu tidak hanya berperan sebagai pelatih saja. Tapi, juga menjadi pemegang saham minoritas klub bersama legenda Arsenal, Thierry Henry.

Tidak dipungkiri, reputasi Fabregas sebagai pelatih belum terlalu naik. Meski begitu, di bawah tangan dinginnya, ia mampu membawa dampak positif terhadap perkembangan Como. Apalagi, ia juga memberikan warna baru dalam pendekatan taktik dan pengembangan pemain.

Baca juga: Akhir Era Emas! Pep Guardiola Resmi Ucapkan Salam Perpisahan Emosional kepada Manchester City

Tentunya, berkat kolaborasi semua pihak dan pembangunan struktur secara bertahap membuat Como cukup berkembang lebih cepat dari perkiraan banyak orang.

Kini, Como telah memastikan tempat di Liga Champions usai finish di posisi 4 besar Serie A musim ini. Tentunya, bermain di kompetisi tertinggi di Eropa menjadi tantangan tersendiri bagi Como.

Bermain di Liga Champions, membuat manajemen Como harus mengeluarkan dana untuk belanja pemain baru, demi memperkuat skuad mereka musim depan.

Belanja pemain dengan cerdik dan juga sesuai dengan kebutuhan tim, menjadi faktor kunci bagi kesuksesan I Lariani.

Keberhasilan Como menjadi salah satu kekuatan baru di sepak bola Italia maupun Eropa, menjadi bukti bahwa komitmen Djarum Group dalam membangun klub yang bermarkas di Giuseppe Sinigaglia itu tidak setengah-setengah.

Mereka justru membangun Como sebagai proyek jangka panjang, bukan untuk proyek jangka pendek, dan hal itu telah terbukti setelah 7 tahun mereka mengakuisisi klub.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan, X @firzieidris

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU