Christian Horner (sumber: Crash.net.)
INDOZONE.ID - Setelah 20 tahun memimpin Red Bull Racing, Christian Horner secara resmi hengkang dari tim yang telah ia bangun menjadi raksasa. Namun, jangan sedih dulu. Perpisahan ini datang dengan paket pesangon yang nominalnya bikin geleng-geleng kepala, yakni mencapai £80 juta atau setara Rp1,7 triliun!
Dengan uang sebanyak itu dan status bebas transfer, rumor kembalinya Horner ke F1 langsung berhembus kencang. Apakah ia akan melakukan comeback epik musim depan? Eits, tunggu dulu. Guenther Steiner, mantan tim prinsipal MoneyGram Haas F1 Team yang ikonik sekaligus legenda Drive to Survive, kini menjadi investor di KTM Red Bull Tech 3 punya pandangan berbeda. Menurutnya, jalan Horner untuk kembali ke F1 tidak semulus yang dibayangkan.
Melansir The Guardian, Christian Horner telah resmi meninggalkan Red Bull pada minggu lalu. Kepergian ini menjadi puncak dari serangkaian kontroversi internal yang melanda tim sejak awal tahun, hingga membuatnya dipecat setelah Grand Prix Inggris pada Juli lalu.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah kesepakatan pesangonnya. Angka Rp1,7 triliun bukan hanya nominal fantastis, tetapi juga disertai klausul penting: Horner bebas kembali bekerja di F1 sebelum musim panas 2026. Artinya, ia tidak perlu menjalani "masa karantina" panjang seperti tokoh F1 lainnya.
Sontak, namanya langsung dikaitkan dengan beberapa tim, mulai dari BWT Alpine, Aston Martin Aramco, hingga MoneyGram Haas. Namun, menurut Guenther Steiner, para fans F1 sebaiknya jangan terlalu berharap melihat Horner di pit wall musim depan.
Dalam siniar The Red Flags, Steiner yang terkenal blak-blakan meragukan kembalinya Horner ke F1.
“Saya pikir dia akan menunggu sebentar,” kata Steiner.
“Dia memang ingin segera kembali, tapi saat ini saya rasa tidak ada proyek yang benar-benar ia inginkan.”
Menurut Steiner, ambisi Horner sekarang bukan lagi sekadar menjadi prinsipal tim. Setelah 20 tahun membangun dinasti di Red Bull, targetnya kini lebih tinggi.
“Saya pikir dia ingin menjadi bagian dari kepemilikan sebuah tim. Masalahnya, saat ini sepertinya tidak ada tim yang dijual,” jelas Steiner.
“Meskipun dia dapat banyak uang, jumlah itu masih jauh dari cukup untuk membeli sebuah tim F1.”
Jadi, skenario Horner kembali sebagai “karyawan” biasa sepertinya mustahil, apalagi jika harus bekerja di bawah figur kuat lainnya.
“Dia tidak akan mau melakukan hal lain selain menjadi prinsipal tim. Bahkan pergi ke Alpine untuk bekerja dengan Flavio (Briatore), itu tidak akan berhasil. Flavio dan dia di posisi puncak? Tidak mungkin,” tambah Steiner.
Dari semua rumor yang beredar, kepindahan ke Aston Martin adalah yang paling menarik sekaligus mustahil. Kenapa? Jawabannya ada pada satu nama: Adrian Newey.
Steiner menjelaskan, reuni antara Horner dan Newey di tim yang sama adalah resep bencana. Seperti diketahui, salah satu alasan utama Adrian Newey hengkang dari Red Bull adalah karena merasa tidak nyaman dengan situasi internal tim setelah Horner dituduh melakukan pelecehan dan perilaku kasar terhadap seorang kolega wanita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita